Upaya Perempuan Menggapai Lailatul Qadar

 

Artikel ini di Submit Pada 14 Juni 2015 Oleh: Nurul Lathiffah

 

Peneliti, Staf Divisi Penelitian dan Pengembangan Badko TKA TPA Rayon Galur

Upaya Perempuan Menggapai Lailatul Qadar — Setiap muslim tentu menantikan hadirnya malam lailatul qadar dan menghajatkan akan melakukan amalan ibadah kepada Allah swt karena pada malam itu, siapa yang atas izinNya mendapatkan kemuliaan, tentu Allah swt akan memberikan kemuliaan baginya di dunia dan akhirat. Bagi kaum perempuan, tentu saja malam lailatul qadar menjadi suatu hal yang sangat dinantikan. Tak jarang, ketika sepuluh hari terakhir tamu bulanan datang, perempuan menjadi sedih karena tidak bisa  menunaikan ibadah dengan maksimal.

 

Adalah benar, bahwa letak kekurangan seorang wanita di dalam agama adalah karena wanita memiliki fitrah untuk haid sehingga kaum perempuan memiliki waktu terbatas dalam beribadah. Pun meski demikian, keadilan Tuhan demikian indah dan sangat adil. Buktinya, pahala ketaatan perempuan kepada sang suami memiliki pahala yang sangat besar di sisi Allah swt. Kita masih ingat kisah Fatimah, putrid Rasulullah yang mengeluh lelah menggiling gandum kemudian Rasulullah saw menasihati bahwa pahala setiap tumbukan gandum sesungguhnya sangatlah besar. RAsulullah yang pada saat itu dimintai seorang pembantu oleh putrinya pun justru menasihati bahwa sebaiknya seorang istri bekerja menyiapkan makanan dan menyelesaikan kebutuhan rumah tangga, dan jika dirasa berat sebaiknya  kaum  perempuan memperbanyak dzikir.

 

Malam lailatul qadar secara khusus dirahasiakanNya agar kita mampu berfastabiqul khairat menuju amalan ibadah terbaik. Tentu saja, kita tidak akan mampu mengetahui secara pasti kapan kemuliaanNya akan turun, sehingga waktu itu doa-doa dari hambaNya akan diterima oleh Allah swt. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar) menjadi lebih baik bagi kalian”. Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa  waktu malam  lailatul qadar itu tidak ditentukan. Hikmah rahasia waktu diturunkanNya lailatul qadar adalah, agar seorang hamba bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada tiap-tiap malam dengan harapan agar bertepatan dengan lailatul qadar. Pun meski demikian, karena sangat berlimpahnya fadhilah (keutamaan) malam lailatul qadar itu, Rasulullah saw berkenan untuk memberikan isyarat yang penting dan bermakna untuk kita. Dari Aishah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Carilah sebisa mungkin oleh kamu Lailatul Qadar itu pada malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.”   ( HR. Bukhari)

 

Bagi kaum perempuan yang haid, tentu saja tidak bisa ikut iktikaf, tidak bisa berpuasa, dan tidak bisa shalat juga membaca Al Quran dengsn niat ibadah. Akan tetapi, ternyata kaum perempuan  masih bisa berdzikir, bershalawat, berdoa, bahkan menyiapkan sajian sahur dan berbuka yang tentu saja jika dilakukan  dengan ikhlas akan mendapatkan pahala dari Allah swt yang tiada terhingga. Kesedihan seorang perempuan ketika tidak bisa shalat dan berpuasa tentu saja sangat manusiawi. Hal ini sebagaimana juga dialami Aisyah yang pada saat berhaji mengalami uzur  atau haidh. Suatu saat, ketika sedang berhaji Aisyah r.a sangat berduka. Rasulullah saw bertanya, hal apa yang menyebabkan Aisyah berduka. Ternyata, Aisyah mengalami haidh. Bagimana jawaban Rasulullah saw menghadapi kesedihan sayidah Khadijah?Rasulullah bersabda, “ itu adalah fitrah yang baik”.

 

Lailatul Qadar diturunkan Allah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Mengingat keistimewaan malam Lailatul Qadar yang luar biasa itu, tentu kaum muslim ingin mendapatkannya.  Termasuk muslimah juga tidakketinggalan, padahal belum tentu pada sepuluh hari terakhir perempuan dalam keadaan suci.  Kerananya perempuan harus mengetahui bagaimana cara mendapatkan Lailatul Qadar, sementara ia dalam keadaan haid atau nifas. Secara umum cara untuk memperoleh Lailatul Qadar adalah menghidupkan malam  pada sepuluh hari terakhir.  Dari Aisyah, ia berkata: Bahwa Nabi Saw. Apabila sepuluh hari terakhir sudah masuk, maka beliau menghidupkan malam itu, membangunkan keluarganya dan mengikat sarungnya. [ HR Ahmad, Bukhari-Muslim]

 

Dari  hadis tersebut dijelaskan bahawa Rasulullah senantiasa menghidupkan  sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan membangunkan keluarganya.  Ada keterangan bahawa Rasulullah membangunkan anggota keluarganya, sekalipun mereka dalam keadaan haid.  Tujuannya adalah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah.  Tentu saja bagi wanita yang haid hanya melakukan ibadah yang dibolehkan baginya. Bagi perempuan yang suci dari haid, sebaiknya menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah seperti salat, membaca  Al Quran, berdoa, dan berzikir. Doa yang biasa dipanjatkan Rasulullah pada malam Lailatul Qadar adalah, “ Ya Allah!  Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan suka memaafkan, maka maafkan aku”. Adapun bagi perempuan yang sedang haid dan nifas, maka  menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan cara berzikir, memohon ampun kepada Allah dan berdoa adalah cara terbaik menjemput karunia kemuliaan lailatul qadar dariNya. Wallahu’lam.

Lazada blog finalist

About the Author

Kontributor artikel pada Blog Lazada Competition 2015. Silahkan baca, share dan tuliskan komentar untuk posting keren ini :)

PROMOTION

homepage