Ramadhan dan Peci Kabayan

Artikel ini di Submit Pada 2015/07/11 Oleh Richa Miskiyya

 

Ramadhan dan Peci Kabayan — Siapa yang tak kenal Kabayan? Bagi masyarakat Indonesia sosok Kabayan tentunya begitu lekat apalagi sejak tokoh imajinatif dari budaya Sunda ini mulai diangkat ke layar kaca dan layar lebar. Jika ditanya seperti apa Si Kabayan ini, selain kocak dan banyak akal, bisa dipastikan akan banyak yang mendeskripsikan Kabayan sebagai sosok sederhana yang gemar memakai peci hitam serta sarung yang dikalungkan di tubuhnya.

 

Lalu, apa hubungannya antara Ramadhan dan Kabayan? Saat Ramadhan, ada satu sikap yang seharusnya kita lakukan dan pelihara yaitu sikap yang ditampilkan oleh Kabayan, kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan.

 

Selain dari sikap kesehariannya, kesederhanaan Kabayan juga disimbolkan dari peci yang dikenakannya. Peci kabayan yang hitam polos tanpa ornamen apapun ibarat hidup seseorang yang sederhana, tidak neko-neko, namun memiliki manfaat besar. Tak seperti topi para artis yang berharga jutaan, peci Kabayan ini harganya lebih murah dari menu di restoran. Meski harganya murah, tapi tidaklah murahan karena selain dipakai di waktu sehari-hari, juga digunakan ketika menghadap Tuhan. Peci Kabayan ini dihadapkan ke depan terlihat sederhana, dihadapkan ke belakang juga terlihat sederhana, apalagi dipakai menyamping, sungguh sederhana….

Lalu, sudahkah kita bersikap layaknya peci Kabayan yang sederhana? Dan sudahkah kita bersikap sederhana dan tak berlebih-lebihan ketika Bulan Ramadhan?

 

Saat bulan Ramadhan, seperti menjadi sebuah hal yang pasti, semua harga pokok akan naik. Kenapa bisa begitu? Salah satunya karena permintaan barang naik sedangkan jumlah barang pokok tetap. Kenapa permintaan naik? Ini tentunya terjadi karena saat Ramadhan, masyarakat membeli kebutuhan lebih banyak dari hari-hari biasanya.

Padahal, waktu makan saat Ramadhan hanya dua kali setiap harinya, yaitu ketika sahur dan berbuka. Namun, kenyataannya menunya lebih mewah dari hari-hari biasanya, apalagi ketika datang waktu berbuka, semua ta’jil ingin dibeli, semua jenis minuman ingin dibuat, semua macam makanan ingin dimakan.

Ketika Ramadhan seharusnya yang dimaksimalkan itu ibadahnya, bukan nafsunya, termasuk nafsu ketika berbuka. Jangan sampai apa yang tak termakan menjadi mubadzir, dan jangan sampai karena kekenyangan akhirnya malas untuk beribadah. Rasulullah pernah bersabda :

Cukuplah seseorang dengan beberapa suap makanan untuk menguatkan badannya. Jika perlu ia makan, hendaklah perutnya diisi sepertiga makanan, sepertiga air (minum) dan sepertiga lagi untuk udara (bernafas). (HR. Tirmidzi)

Hadits di atas memberikan pembelajaran bahwa Rasulullah tak pernah berlebih-lebihan saat menyantap makanan. Rasulullah selalu mengisi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara.

Sifat boros dan berlebih-lebihan juga tidak disukai oleh Allah SWT. Hal ini juga termaktub dalam Firman Allah Surat Al Isra’, ayat 26-27 :

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat hak mereka dan kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan

dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

(QS, al-Isra`:26-27)

 

Ayat tersebut menjelaskan jika kita jangan menjadi orang yang bersifat boros, karena para pemboros adalah saudara syaitan dan syaitan sangatlah ingkar kepada Allah.

Daripada membeli sesuatu yang berlebihan hingga berakhir dengan kemubadziran. Alangkah baiknya jika kita membelanjakan harta kita untuk disedekahkan karena sesungguhnya dalam harta kita terdapat hak-hak orang lain. Ingatlah, masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan dan menanti uluran tangan.

Ketika kita makan berlebihan saat berbuka puasa, ada tetangga kita yang berbuka hanya dengan nasi dan kerupuk saja.

Ketika kita berlomba untuk mencari café mahal untuk berbuka bersama dengan teman lalu mengupload fotonya di facebook dan instagram, ada saudara kita yang sedang berbuka puasa di sebuah gubuk kecil dengan cahaya lampu temaram

Ketika kita setiap hari bertanya ‘Buka puasa nanti makan dimana?’, ada saudara kita di kolong jembatan yang setiap hari berdoa ‘Ya, Allah, berilah kami rizki untuk berbuka puasa’.

Kita harus ingat masih banyak saudara-saudara kita yang tak berpunya, oleh karena itu janganlah kita menutup mata terhadap kondisi mereka. Mari kita meneladani Rasulullah yang dermawan dan gemar bersedekah, sebagaimana sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra :

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawaan beliau akan bertambah pada bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril. Beliau bertemu dengan Jibril setiap malam Ramadhan untuk mempelajari Al-Qur’an, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dari hembusan angin (yakni sangat mudah mengeluarkan sedekah).”

(HR. Bukhari)

Bulan Ramadhan seharusnya menjadi waktu dimana kita introspeksi untuk tidak bermewah-mewah diri, agar kita bisa ikut merasakan rasa lapar dan dahaga yang dirasakan saudara-saudara kita yang tak mampu dalam kesehariannya.

Semoga setelah belajar tentang kebaikan dan bermuhasabbah diri di Bulan Ramadhan ini, kita dapat melanggengkan kebaikan setelah Ramadhan nanti sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peka dengan lingkungan, dan tak ragu untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama. Aamiin.

Lazada-blog-finalist125

About the Author

Kontributor artikel pada Blog Lazada Competition 2015. Silahkan baca, share dan tuliskan komentar untuk posting keren ini :)

PROMOTION

homepage